Refleksi-Ku

Assalamualaikum..

Rasanya sudah waktunya untuk ber-refleksi lagi, dan ingin menginstropeksi diri lagi :)
Bismillah...

5 tahun suka duka menjadi guru BK, tahun pertama sejujurnya kaget bgt mendapati karakter anak-anak disekolah. Jauh berbeda dari anak-anak yang sebelumnya kutemui. Entah karena bedanya karakter, atau memang ada sesuatu yang salah dengan mereka.
Tahun pertama penuh dengan proses membanding-bandingkan, sering terbawa emosi, lupa untuk fokus sama solusi, dan akhirnya mengiring diri sendiri kepada sosok guru BK yang lebih ditakuti daripada disenangi. Sediiih :(

Kesalahanku adalah tidak memulai dari memahami sejauh mana posisi perkembangan anak saat itu. Yang kulakukan adalah menarik mereka pada standar yang aku punya, sesuai harapanku, sesuai persepsiku, sehingga terjadilah jurang besar antara mereka dan harapanku. Padahal harapan mereka sendiri yang harusnya dijadikan standar mereka untuk bergerak maju. Bukan standar orang lain.

Jadi menurutku, kesalahanku adalah memaksakan standar diriku untuk kehidupan mereka. Sehingga lebih sering merasa frustasi karna jauh dari harapanku. Maaf yaaa nak :(

Segala sesuatu yang tidak diawali dengan proses mendengar dengan baik rasanya tidak akan pernah selesai dengan baik. #ntms

Anak-anak, 16-18 yo.
Aku disibukkan dengan anak yang bolos sekolah (dari rumah berangkat, tp gak nyampe sekolah), merokok dilingkungan sekolah, melawan guru, tukang tidur dikelas, dll. Dan yang lebih penting, ortu yang ketika dihubungi sekolah, mereka pun udah menyerah dengan anaknya sendiri. Dan hampir setiap kasus berasal dari ana-anak yang broken home.

Setiap anak yang punya persoalan, cenderung kebanyakan laki-laki, dan aku selalu mengawali dengan

                "Mama Papa ada dirumah ?"
                "Udah cerai Bu"

                 "Tau Bapak dimana ?'
                 "Gatau bu udah nikah lagi, udah gak pernah kasih uang jajan juga"

Atau, pernah aku dapati murid laki-laki yang mengurus segala keperluan sekolah nya sendiri, karena ibunya harus sudah pergi pagi untuk bekerja (single parent), dan hanya punya waktu mengobrol dengan ibunya seminggu sekali karena ibunya pulang kerja selalu larut malam.
Satu sisi memang si anak menjadi pribadi yg mandiri, tp gak bisa bohong kuselalu jerit hati dengernya😭 disaat umur itu penuh kasih sayang dan perhatian yang diterimanya.


Anak punya masalah + Orangtua gak ngerti (gak peduli) = Bencana

1. Motivasi belajar rendah
2. Ekspektasi karir rendah
3. Broken home
4. Pergaulan bebas
5. Low self-esteem

Hmmm, panjang banget kalo mau di curhatin semua huhuu. Jadi intinya refleksi ini aku bener-bener jadikan bahan evaluasi diri agar bisa lebih tenang dan mampu berpikir bagaimana seharusnya menghadapi anak-anaku. Gak lagi memaksakan standar untuk mereka, dan lebih banyak mendengar apa yang mereka inginkan dan apa rencana terbaik mereka yang ingin mereka capai.
Semoga bisa lebih kreatif, lebih sabar dan mau turut mendengarkan kalian agar kita bisa sama-sama bahagia, sukses dan mampu mencapai target-target kehidupan kita kedepan. Bismillah ya :)

Komentar